Jumat, 23 Desember 2022

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak

 


                                                       Oleh : Yoyok Ardianto, S.E.
                                                  CGP Angkatan 5 Kab. Bulungan


Setelah saya mempelajari Modul 1.2 saya akan menuliskan pengalaman saya dalam jurnal refleksi dengan menggunakan alur model 4 F, yakni Fact ( Peristiwa ), Feeling ( Perasaan ), Findings ( Pembelajaran ), Future ( Penerapan ).

1. Peristiwa.
Saya mulai mempelajari modul 1.2 diawali dengan mulai dari diri dengan mempelajari trapesium usia, di eksplorasi konsep kita belajar mandiri dan forum diskusi tertulis, pada ruang kolaborasi kita membuat karya dengan berkelompok dan mempresentasikannya, di demonstrasi kontekstual CGP diminta karya gambaran sebagai guru penggerak dimasa depan. Dalam Elaborasi Pemahaman CGP diminta membuat pertanyaan bermakna dan berdialog secara virtual Di Koneksi antar materi dikaitkan dengan modul yang sudah kita pelajari sebelumnya. Dalam aksi nyata membuat pengembangan diri secara sederhana.

2. Perasaan
Dengan mempelajari modul ini saya semakin memahami apa peran dan nilai sebagai guru, dengan adanya bimbingan dari Fasilitator, Pengajar Praktik, dan rekan sejawat melalui diskusi dan kolaborasi membuat saya yakin dan bisa menerapkannya di sekolah dan menyebarluaskan informasi ini kerekan-rekan guru, serta lebih mampu menjadikan murid lebih semangat belajar dan kesekolah.

3. Pembelajaran
Pada modul ini saya mempelajari nilai dan peran guru penggerak yang sangat menginspiratif. Nilai guru penggerak Yaitu Berpihak kepada siswa, mandiri, kolaboratif, reflektif dan inovatif. Sedangakan peran guru penggerak yaitu pemimpin pembelajaran, menjadi coach kepada guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemmpinan siswa, dan menggerakkan komunitas praktisi.

4. .Penerapan
Saya akan lebih menguatkan diri sebagai guru penggerak dengan mengeksplor nilai-nilai yang saya miliki akan mampu mengimplementasikan  semua peran guru penggerak, dengan menyebarkan dan berbagi praktek baik kepada rekan sejawat sehingga bisa menciptakan profil pelajar pancasila.

Demikian, tulisan saya,  terima kasih.
Salam Dan Bahagia.


 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.1



Oleh

Yoyok Ardianto, S.E Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Bulungan . Provinsi Kalimantan Utara

Pada kesempatan ini, saya, Calon Guru Penggerak dari SMP Negeri 4 Tanjung Palas Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara akan menulis satu tulisan mengenai jurnal refleksi dwi mingguan modul 1.1.A tentang Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Jurnal refleksi dwimingguan adalah sebuah tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti sebuah kegiatan pelatihan (upgrading skill) yang ditulis secara rutin setiap dua mingguan. Jurnal dwi mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh setiap calon guru penggerak. Dan ini sudah menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh para CGP (Calon Guru Penggerak) untuk membuatnya.

Jadi, kali ini saya akan menulis mengenai refleksi saya mengenai kegiatan-kegiatan pelatihan yang sudah kami lalui, khususnya pada modul 1.1 Tentang Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara. Dalam menulis jurnal refleksi ini saya menggunakan model 1 yaitu model 4F (1. Fact; 2. Feeling; 3. Findings; dan 4. Future), yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P (1. Peristiwa; 2. Perasaan; 3. Pembelajaran; dan 4. Penerapan.

1. Facts (Peristiwa)

Pendidikan Guru Penggerak resmi dibuka oleh Kemendikbudristek yaitu Bapak Nadiem Makarim,B.A.,M.B.A. dan Dirjen GTK melalui zoom yang diikuti CGP Angkatan 5 se Indonesia. Pembukaan juga diisi oleh Kepala Balai Guru Penggerak. Beliau menyampaikan bahwa selama mengikuti diklat guru penggerak diharap para CGP jangan sampai berhenti di tengah jalan karena Bapak/Ibu adalah guru-guru pilihan. Jangan dijadikan alasan karena kendala-kendala yang dapat menghambat proses belajar. Setelah kegiatan zoom meeting seluruh CGP Angkatan 5 wajib mengikuti kegiatan-kegiatan serta pelatihan-pelatihan yang ada di LMS mulai dari mempelajari modul 1.1. tentang Mulai Dari Diri dan Eksplorasi Konsep di forum diskusi yang dipimpin oleh fasilitator. Kemudian ada ruang kolaborasi, di mana setiap CGP berkolaborasi bersama kelompoknya masing-masing.

Pada  Lokakarya orientasi secara luring dari pukul 08.00 s.d 17.00 WITE. Saat lokakarya orientasi saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman tentang pendidikan guru penggerak.Dalam kegiatan ini diundang juga pengawas dan Kepala sekolah tempat CGP mengajar. Dengan diikutsertakannya Kepala Sekolah dalam lokakarya tersebut alangkah bahagianya hati saya karena Beliau mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang perjalanan Pendidikan Guru Penggerak sehingga diharapkan dapat memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi kepada saya sehingga saya dapat melaksanakan Pendidikan Guru Penggerak ini dengan baik.

Dalam moment ini, kami fokus menggali dan memperluas wawasan kami tentang mengenali siapa saya, apa yang belum dan sudah ada pada diri saya serta mengerjakan 5 LK dan mendiskusikannya untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam.

Dengan bimbingan bapak Pengajar Praktik, saya merasa lokakarya orientasi ini menjadi sangat menyenangkan sehingga waktu yang cukup lama tersebut menjadi tidak terasa. Kegiatan dimulai dengan membuat kesepakatan kelas, kemudian menulis harapan dan tantangan menjadi CGP dikertas post-it, setelah itu menempel dikertas plano . Beliau juga meminta kami membuat google site sebagai wadah guru penggerak yang nantinya siap berbagi praktik baik bagi guru-guru yang lain.

Kurang lebih selama dua minggu,  kami belajar mandiri mulai dari diri sendiri merefleksi pemikiran KHD melalui LMS yang dirancang dengan sangat bersahabat, sehingga para CGP tidak susah untuk mengeksplore fitur-fitur yang ada di dalam LMS itu sendiri. Kegiatan demi kegiatan dilaksanakan hingga kami melakukan kegiatan eksplorasi konsep bediskusi bersama fasilitator dan CGP lainnya mengenai filosofi KHD. Setelah itu, ruang kolaborasi saya bersama teman-teman saling sharing dan berdiskusi mengenai filosfi KHD dan penerapannya di sekolah. Kemudian kami diharuskan membuat karya berupa demonstrasi konstektual.

Terakhir mengiktui kegiatan elaborasi pemahaman bersama instruktur. Di sana banyak ilmu dan pengalaman yang disampaikan instruktur dan teman-tean CGP lainnya. Instruktur memberikan asupan ilmu tentang pemahaman yang sangat mendalam mengenai konsep Filosofi KHD dan penerapannya pada konteks lokal sosial budaya.

Berdiskusi dan terus belajar sehingga kami ditugaskan untuk membuat modul itu dalam bentuk grafik, infografis, blogspot, video, dll berupa modul koneksi antar materi, kesimpulan dan refleksi pemikiran Ki Hajar dewantara. Dan saya memilih membuat blog.

2. Feelings (Perasaan)

Selama kurang lebih dua minggu menjadi CGP, banyak sekali hal yang dirasakan, sedih, senang, down, bahagia, semua bercampur aduk dengan keinginan dan tekad yang kuat untuk dapat menyelesaikan Program Guru Penggerak ini. Keseluruhan perasaan tersebut saya ibaratkan juga dengan apa yang dialami oleh murid-murid saya.

Perasaan senang karena saya bisa mendapatkan Banyak ilmu Pengetahuan dan pengalaman tentang filosofi KHD, bagaimana menjadi guru yang seharusnya, bagaimana memerdekakan anak, upaya apa yang harus dilakukan, dll. Keseluruhan rangkaian yang ada di dalam LMS membuat saya merasakan bahwa apa yang saya miliki tentang Pendidikan sangat jauh dari yang diharapkan dengan tujuan Ki Hajar Dewantara.

Betapa harus dicontohnya sosok Ki Hajar Dewantara yang mengatakan bahwa kita harus memanusiakan manusia, sehingga murid dapat mencapai kodrat alam, namun juga tetap selalu membuka mata untuk setiap hal positif di luaran sana (kodrat zaman) sehingga anak didik kita dapat merasakan kebahagiaan dan keselamatan sejati.

Saat menerapkan filosofi KHD di dalam pembelajaran saya merasa senang karena ada hal yang berubah menjadi lebih baik pada diri murid-murid saya. Misalnya dahulu saya banyak melakukan pembelajaran konvensional. Sekarang lebih berpusat pada siswa. Siswa merasa senang karena kebutuhan belajarnya terpenuhi. Semangat siswa untuk bersekolah semakin meningkat. Saya juga merasa bangga karena saya bisa menjadi bagian dari guru-guru hebat di seluruh Indonesia. Sehingga banyak hal yang didapat dari materi ini.

3. Findings (Pembelajaran)

Dalam pembelajaran ini saya menemukan hal-hal yang kurang saya pahami sebelumnya yaitu tentang filosofis Ki Hajar Dewantara. Saya mendapat ilmu-ilmu baru yang sangat saya perlukan untuk meningkatkan kompetensi saya sebagai seorang pendidik. Melalui 6 Dasar pemikiran ki hajar Dewantara saya merasa mendapat bekal yang tidak ternilai harganya.

Pengalaman berharga ini didapat ketika mendapatkan ilmu tentang filosofi pendidikan KHD dan saat berdiskusi dengan rekan CGP serta fasilitator dan instruktur. Banyak hal yang didapat untuk saya terapkan dalam pembelajaran di kelas saya. Pengalaman yang berharga yaitu mendapatkan imu tentang filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Pemikiran KHD tersebut menyatakan bahwa tugas saya sebagai seorang pendidik adalah guru disini adalah menuntun anak pada kodratnya sehingga anak dapat hidup secara mandiri di masyarakat dengan mengacu pada trilogi pendidikan yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani. Pendidikan harus didasarkan pada kodrat alam dan kodrat zaman. Bahwa anak memiliki kodrat merdeka, merdeka batin adalah pendidikan sedangkan merdeka lahir adalah pengajaran. Dua hal yang saling bergantug satu sama lain. Oleh karena itu saya harus memberikan kemerdekaan kepada anak-anak untuk menyelesaikan tugas-tugasnya sesuai dengan minat, bakat , dan kreatifitasnya sebab manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.

Tidak hanya itu, sebagai pendidik saya harus senantiasa menuntun kepada anak atau dengan kata lain berpihak pada mereka. Saya juga harus memandang murid bukanlah kertas yang bisa digambar sesuai kemauan saya, karena mereka lahir dengan kodrat yang samar. Tugas kita adalah menebalkan garis-garis samar itu agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya sesuai dengan tujuan pendidikan yang sebenarnya.

Menerapkan budi pekerti yang luhur atau akhlak mulia merupakan keharusan yang tidak terbantahkan dengan cara mengintegrasikan setiap proses pembelajaran dengan pencapaian profil pelajar Pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri , bernalar kritis dan kreatif.

Ketika berdiskusi dengan fasilitator, instruktur, dan rekan CGP yang lain banyak sharing pengalaman dalam penyelesaian tantagan dalam penerapan filosofi KHD ini di sekolah.

4. Future (Penerapan)

Saya akan merealisasikan hal terbaik dalam proses pembelajaran saya dikelas, agar tujuan pendidikan bisa tercapai dengan baik. Banyak hal yang akan saya benahi, karena saya sadar selama ini yang saya lakukan jauh dari kata sempurna jika dikaitkan dengan filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara .

Filosofi pendidikan KHD yang didapatkan selama 2 minggu ini akan saya laksanakan dalam proses pembelajaran. Saya akan merancang pembelajaran yang berpusat pada murid, agar tercipta interaktif yang menyenangkan didalam kelas.

Saya akan merancang pembelajaran sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Memberi kebebasan kepada anak-anak untuk menggali potensi yang dimilikinya harus terjadi dalam proses pembelajaran agar mereka menemukan jati dirinya sehingga menjadi manusia seutuhnya.

Saya akan menjadi guru yang bisa menuntun kodrat siswa dan menjadi teladan bagi mereka. Merasa egois kepada peserta didik bukan lagi hal yang perlu dipertahankan tetapi kita harus merubahnya dengan menuntun peserta didik agar kodrat alam yang dimilikinya sejak lahir bisa berkembang kearah yang lebih baik dan kodrat zaman dimana mereka hidup saat ini bisa mereka dapatkan sehingga akan mempermudah mereka dalam mengatasi persoalan hidupnya dimasa kini ataupun masa yang akan datang. Pendidikan disesuaikan dengan kodrat zaman bahwasanya anak sekarang hidup di era digital, sehingga guru harus mengembangkan keterampilan abad 21 untuk menghadapi tantangan zaman ini. Keterampilan abad 21 dapat dilaksanakan dengan pembelajaran menggunakan proyektor dan menggunakan teknologi komunikasi, serta menuntun siswa untuk aktif mengkonstruk ilmunya sendiri. Tugas guru di sini hanyalah menuntun siswa. Selain itu siswa juga memiliki karakteristik, potensi, minat dan baka yang berbeda sesuai dengan kodrat alam. Oleh karena itu pembelajaran harus memfasilitasi perbedaan siswa tersebut. Guru harus mengetahui gaya belajar siswa sehingga bisa menerapkan pembelajaran berdeferensiasi. Pembelajaran yang berpusat pada siswa dan disesuaikan dengan gaya belajar. Hal yang akan saya lakukan untuk memfasilitasinya yaitu dengan menggunakan berbagai macam media pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa.


Demikian , semoga bisa menambah wawasan. Terima kasih.

Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.3

 











Oleh : Yoyok Ardianto, S.E.

CGP ANGKATAN 5 KABUPATEN BULUNGAN

Modul 3.3

PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF TERHADAP MURID

Menggunakan Model 5 R 

R Reporting

R Responding

R Relating

R Reasoning

R Reconstrukting

1. REPORTING

Kegiatan Modul 3.3 diawali dengan mulai dari diri dilanjutkan Eksplorasi Konsep. Kemudian dilanjutkan Ruang Kolaborasi dan CGP mengerjakan Demonstrasi Kontekstual secara mandiri. Secara Klasikal CGP mengikuti vicon Elaborasi Pemahaman dilanjutkan mengerjakan Koneksi Antar Materi dan Aksi Nyata tentang pengelolaan program yang berdampak positif terhadap murid.

2. RESPONDING

Semangat adalah modal bagi saya dalam mempelajari modul 3.3 ini. Saya sangat antusias dalam mengikuti Ruang Kolaborasi tentang bagaimana merancang program-program yang berdampak positif pada murid dengan memperhatikan suara murid, pilihan murid dan kepemilikan murid. Sebagai agen perubahan kita memang harus bisa menuntun segala kodrat murid untuk bisa memaksimalkan potensi yang ada dalam dirinya melalui aset yang dimilikinya. Dengan menumbuhkan nilai-nilai kebajikan dan budaya positif akan melahirkan generasi yang berkarakter pelajar Pancasila.

3. RELATING

Melalui pembelajaran Modul 3.3, saya mendapatkan penguatan dan pengalaman terutama dalam bagaimana langkah yang lebih tepat untuk mengelola program yang berdampak positif kepada murid. Ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan yang dikarenakan adanya keterbatasan, maka saya sebagai pemimpin pembelajaran  menggunakan suara murid, pemilihan murid dan kepemilikan murid karena program ini diharapkan dari murid, oleh murid dan untuk murid. Kita sebagai guru hanya perlu memfasilitasi dan memberikan motivasi penuh untuk pencapaian tujuan dan harapan yang diinginkan. Selain itu juga dapat menerapkan nilai-nilai dan peran guru penggerak untuk menerapkan pendekatan berbasis aset sehingga saya berfikir aktif, kreatif dan inovatif  dengan rekan sejawat dalam mengelola keterbatasan aset menjadi sebuah kekuatan.

4. REASONING

Dalam pengelolaan program yang berdampak positif kepada murid kita harus memberikan pengalaman yang bermakna yaitu melalui suara murid mereka dapat mengungkapkan segala aspirasinya, melalui pilihan murid kita dapat memberikan kemerdekaan kepada murid , serta melalui kepemilikan murid kita dapat memaksimalkan aset atau kekuatan yang ada dalam dirinya dan lingkungan sekitarnya.

5. RECONSTRUKTING

Pengelolaan program yang berdampak positif  pada murid  tidak hanya dilakukan jika sebuah sekolah atau lembaga pendidikan terpenuhi segala sarana dan prasarana. Pengelolaan program yang berdampak positif pada murid dapat kita lakukan meskipun kita memiliki banyak keterbatasan dalam hal aset yang kita miliki. Melalui modal manusia kita dapat berkolaboras menciptakan program yang benar-benar dibutuhkan murid. Melalui kesadaran diri dan rasa tanggung jawab murid diharapkan dapat menyukseskan program yang telah disepakati dan menjalankan secara berkesinambungan.


Demikian Jurnal Refleksi Modul 3.3 semoga bisa menambah manfaat Pembaca.

Terima kasih, Salam Bahagia.


Tour Aksara Tiga Negara ASEAN

      Ke Luar Negeri ?  Yah sesuatu yang merupakan impian saya disiang bolong yang menjadi kenyataan, namun masih  serasa mimpi hingga saat ...